Makalah Karangan

Kamis, 13 Januari 2011
Posted by Amir Eljani
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya saling melengkapi. Menurut Syafie’ie (1988:42), secara psikologis menulis memerlukan kerja otak, kesabaran pikiran, kehalusan perasan, kemauan yang keras. Menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama dan berulang-ulang. Dengan kata lain, tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.
Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya, misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, dan motivasi yang kuat. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis hendaknya memiliki tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan pewajahan. Ketiga keterampilan ini harus saling menunjang atau isi-mengisi. Kegagalan dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis

B. Rumusan Masalah
a. Apakah Pengertian Karangan Itu?
b. Apa Sajakah Macam-macam Karangan?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Karangan
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
Karangan merupakan hasil akhir dari pekerjaan merangkai kata, kalimat, dan alinea untuk menjabarkan atau mengulas topik dan tema tertentu. Menulis atau mengarang pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan, pendapat gagasan, perasaan keinginan, dan kemauan, serta informasi ke dalam tulisan dan ”mengirimkannya” kepada orang lain (Syafie’ie, 1988:78). Selanjutnya, menurut Tarigan (1986:21), menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca.
Semua pendapat tersebut sama-sama mengacu pada menulis sebagai proses melambangkan bunyi-bunyi ujaran berdasarkan aturan-aturan tertentu. Artinya, segala ide, pikiran, dan gagasan yang ada pada penulis disampaikan dengan cara menggunakan lambang-lambang bahasa yang terpola. Melalui lambang-lambang tersebutlah pembaca dapat memahami apa yang dikomunikasikan penulis.

B. Macam-Macam Karangan
Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

1) NARASI
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik samba.
1. (What) Apa yang akan diceritakan,
2. (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
3. (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
4. (Who) Siapa pelaku ceritanya,
5. (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
6. (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
 Contoh Narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Beliau memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.
Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.
 Contoh narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.

2) DESKRIPSI
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
 Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:
Menggambarkan atau melukiskan sesuatu penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera, membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
 Pola pengembangan paragraf deskripsi:
Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.
 Langkah menyusun deskripsi:
- Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
- Tentukan tujuan
- Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
- Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
- Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan
Contoh Narasi / karangan deskripsi : Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara - suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang - orang yang masi tidur. serta dapat ku lihat burung - burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan.

3) EKSPOSISI
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
 Langkah menyusun eksposisi:
- Menentukan topik/tema
- Menetapkan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
- Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
 Contoh topik yang tepat untuk eksposisi:
- Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
- Peranan majalah dinding di sekolah
- Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.
 Contoh karangan eksposisi pada umumnya:
Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.
Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.
Contoh paparan proses yang juga merupakan bentuk eksposisi:

4) ARGUMENTASI
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
 Langkah menyusun argumentasi:
- Menentukan topik/tema
- Menetapkan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
- Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi
 Contoh tema/topik yang tepat untuk argumentasi:
- Disiplin kunci sukses berwirausaha,
- Teknologi komunikasi harus segera dikuasai,
- Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial.
 Contoh karangan argumentasi pada umumnya:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.

5) PERSUASI
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
 Langkah menyusun persuasi:
- Menentukan topik/tema
- Merumuskan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan
- Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
 Contoh tema/topik yang tepat untuk persuasi:
- Katakan tidak pada NARKOBA,
- Hemat energi demi generasi mendatang,
- Hutan sahabat kita,
- Hidup sehat tanpa rokok,
- Membaca memperluas cakrawala.
 Contoh karangan persuasi pada umumnya:
Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi, poin yang dapat kita simpulkan dari makalah kami adalah :
- Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
- Macam Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

B. Saran dan Kritik
Sebagaimana pepatah “tiada gading yang tak retak”, kami ibaratkan sebagai kemampuan dan keterbatasan intelek kami. maka, jika terdapat banyak kekeliruan baik dalam segi materinya ataupun dalam segi tulisanya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. jazakumullah ahsanal jaza’.

Kaedah-Kaedah Hukum

Posted by Amir Eljani
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di dalam tatanan hukum dalam pemerintahan, juga dalam masyarakat terdapat berbagai golongan dan alira, untuk membuat masyarakat yang lebih tertata rapi didalam kehidupan. maka kaedah-kaedah hukum adalah dapat juga dinamakan norma atau peraturan-peraturan yang dapat membimbing atau membina kehidupan masyarakat didalam negeri.

Jadi, pada kesempatan kali ini kami sang presentator diberi kesempatan untujk mempresentasikan tentang Keberlakuan Kaedah-Kaedah Hukum

B. RUMUSAN MASALAH
1. Hakekat Kaedah
2. Kaedah Hukum Dan Kaedah Lainya


BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakekat Kaedah
1. Tata Tertib Masyarakat
Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan dan aliran. namun walaupun golongan dan aliran itu beraneka ragam dan masing-masing mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, akan tetapi kepentingan bersam mengharuskan adanya ketertiban dal kehidupan masyarakat itu.
Adapun yang memimpin kehidupan bersama, ayng mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat, ialah peraturan hidup.
Agar supaya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhanya dengan aman tentram dan damai tanpa gangguan, maka bagi tiap manusia perlu adanya suatu tata (orde). tata itu berwujud aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. TATA itu lazim disebut KAEDAH (berasal dari bahasa arab) atau NORMA (berasal dari bahasa latin) atau UKURAN-UKURAN. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud;
- Perintah, yang merupakankeharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik.
- Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
Guna norma itu adalah untuk member petunjuk kepada manusia bagaimana seorang harus bertindak dalam masyarakat serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankan dan perbuatan-perbuatan mana pula yang harus dihindari.
Itu dapat dipertahankan dengan sanksi-sanksi, yaitu ancaman hukuman terhadap siapa saja yang melanggarnya. sanksi itu merupakan suatu pengukuh terhadap berlakunya norma-norma tadi dan merupakan pula reaksi terhadap perbuatan yang melanggar norma.

2. Kaedah Dalam Kenyataan
Keamanan dalam masyarakatakan terpelihara, bilamana tiap warga masyarakat itu tidak akan mengganggu sesamanya. bila keamanan terganggu, maka masyarakat itu akan kacau. manusia-manusia yang bersifat individualistis misalnya akan mementingkan dirinya sendiri dan timbullah pertikaian. jika keadaan masyarakat terus menerus demikian. maka tidaklah dapat dikatakan, bahwa ada penghidupan yang tertatur dalam masyarakat itu.
Tetapi didunia ini manusia terikat oleh peraturan hidup yang disebut Norma, tanpa atau disertai sanksi.
Bilamana seseorang melanggar suatu norma, maka orang itu akan mengalami sanksi yang berbagai-bagai sifat dan beratnya.
Beberapa contoh peraturan hidup adalah misalnya;
i. Orang yang tahu aturan tidak akan berbicara sambil mengisap rokok dihadapan orang yang harus/patut dihormati.
ii. Seseorang tamu yang hendak pulang, harus diantarkan sampai diambang pintu.
iii. Seorang penjual diharuskan menyerahkan barang yang telah terjual kepada pembelinya.
iv. Orang yang mencuri barang orang lain harus dihukum.
Tidak ada larangan bagi orang untuk merokok, kecuali-kecuali ditempat-tempat tertentu. orang yang berbicara sambil menghisap rokok dihadapan orang yang harus dihormati hanyalah mendapat celaan dalam masyarakat yang beradab (sopan).
Seorang tuan rumah tak dapat dipaksakan supaya ia mengantarkan tamunya yang hendak pulang samapi diambang pintu. jika ia tidak mengantarkan tamunya, ia tak akan mendapat hukuman.
Seorang yang mencuri akan menderita kerugian pada badanya, ia akan dihukum penjaradan kehilangan kebebasan untuk sementara waktu.
Dalam masyarakat yang teratur ada suatu badan resmi yang berkuasa untuk menghukum orang-orang yang melanggar peraturan hidup seperti disebutkan dalam contoh ke-3 dan ke-4. oleh karena itu setiap anggota masyarakat akan berusaha untuk mentaati peraturan-peraturan hidup yang seperti itu. peraturan-peraturan hidup yang demikian itu disebut peraturan hukum atau norma hukum.
Norma hukum disertai sanksi berupa hukuman yang sifatnya memaksa, jika peraturan hidup itu dilanggar.
Sanksi hukum dapat berupa;
1. pidana penjara (hukuman badan), atau
2. penggantian kerugian (pidana perdata).



B. Kaedah Hukum Dan Kaedah Lainya
Kehidupan manisia di dalam pergaulan masyarakat diliputioleh norma-norma, yaitu peraturan hidup yang mempengaruhi tingkah laku manusia di dalam masyarakat. sejak masa kecilnya manusia merasakan adanya peraturan-peraturan hidup yang membatasi sepak terjangnya. pada permulaan yang dialami hanyalah peraturan-peraturan hidup yang berlaku dalam lingkungan keluarga yang dikenalnya, kemudian juga yang berlaku diluarnya, dalam masyarakat. yang dirasakan paling nyata ialah peraturan-peraturan hidup yang berlaku dalam suatu Negara.
Akan tetapi dengan adanya norma-norma itu dirasakan pula olehnya adanya penghargaan dan perlindungan terhadap dirinya dan kepentingan-kepentinganya. demikianlah norma-noma itu mempunyai tujuan supaya kepentingan masing-masing warga masyarakat dan ketenteraman dalam masyarakat terpelihara dan terjamin.
Dalam pergaulan hidup dibedakan menjadi 4 macam norma itu kaedah yaitu;
a. Norma Agama
b. Norma Kesusilaan
c. Norma Kesopanan
d. Norma Hukum

1. Norma Agama
Norma Agama ialah peraturan hidup yang diterima sebagai perintah-perintah, larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang berasal dari tuhan.
Para pemeluk agama mengakui dan berkeyakinan, bahwa peraturan-peraturan hidup itu berasal dari tuhan dan merupakan tuntutan hidup kearah jalan yang benar.
Dalam abad pertengahan orang berpendapat, bahwa norma agama adalah satu-satunya norma yang mengatur peribadatan yaitu kehidupan kehidupan keagamaan dalam arti sesungguhnya dan mengatur hubungan manusia dengan tuhan. Tetapi juga memuat peraturan-peraturan hidup yang bersifat kemasyarakatn dan disebut "mu'amalat". Yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dan memberi perlindungan-perlindungan terhadap diri dan harta bendanya.
Misalnya;
- "Jangan berbuat riba, barangsiapa berbuat riba akan dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. (Al-Qur'an; Surat Albaqarah, Ayat 725).

2. Norma Kesusilaan
Norma Kesusilaan ialah peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati sanubari manusia (insan kamil).
Peraturan-peraturan hidup ini berupa bisikan kalbu atau suara batin yang diakui dan di insyafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam sikap dan perbuatanya.
Kesusilaan memberikan peraturan-peraturan kepada manusia agar supaya ia menjadi manusia yang sempurna. Hasil dari pada perintah dan larangan yang timbul dari norma kesusilaan itu pada manusia bergantung pada pribadi orang-orang. Isi hatinya akan mengatakan perbuatan mana yang jahat. Hatinuraninya akan menentukan apakah ia akan melakukan sesuatu perbuatan.
Dalam norma kesusilaan terdapat juga peraturan-peraturan hidup seperti yang terdapat dalamnorma agama, misalnya;
a. Hormatilah orang tuamu agar engkau selamat di akhirat
b. Jangan engkau membunuh sesamamu

3. Norma Kesopanan
Norma Kesopanan ialah peraturan hidup timbul dari pergaulan segolongan manusia.
Norma kesopanan tidak mempunyai lingkungan pengaruh yang luas, jika dibandingkan dengan lingkungan norma agama dan kesusilaan.
Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian.
Tiga macam noarma yang disebutkan diatas, yaitu norma agama, kesusilaan, dan kesopanan bertujuan membina ketertiban kehidupan manusia. Namun ketiga peraturan hidup itu belum cukup memberi jaminan untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat. Manusia dan masyarakat mengenal hal-hal yang tidak termasuk dalam lingkungan norma agama, kesusilaan dan kesopanan.
Dengan demikian orang-orang itu juga tidak terikat kepada jenis peraturan hidup itu. Sehingga mereka bebas untuk berbuat sesuka hati mereka. Sikap yang demikian tentulah membahayakan masyarakat. Oleh karena itu disamping tiga jenis peraturan hidup itu perlu dijaga adanya suatu jenis peraturan lain yang dapat menegakkan tata, yaitu jenis peraturan berdifat memaksa dan mempunyai sanksi-sanksi yang tegas. Jenis peraturan hidup yang dimaksud adalah;

4. Norma Hokum
Peraturan-peraturan yang timbul dari norma hokum, dibuat oleh penguasa Negara. Isinya mengikat setiap orang lain dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat Negara, misalnya;
- Barangsiapa dengan sengaja mengambil jiwa orang lain, dipidana karena membunuh dengan hukuman setinggi-tingginya 15 tahun. Disini ditentukan besarnya pidana penjara untuk orang-orang yang melakukan kejahatan (norma hokum pidana)
- Orang yang tidak memenuhi suatu perikatan yang diadakan, diwajibkan mengganti kerugian (seperti jual beli, sewa menyewa) disini ditentukan kewajiban mengganti kerugian atau pidana denda (norma hokum perdata).
- Suatu perseroan terbatas harus didirikan dengan akte notaries dan disetujui oleh departemen kehakiman. Disini ditentukan syarat-syarat untuk mendirikan perseroan dagang (norma hokum dagang). Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hokum adalah bersifat hereronoom artinya dapatdipaksakan oleh kekuasaan dari luar yaitu kekuasaan Negara.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi, Kaedah-kaedah hukum itu adalah sebagai penuntun atau pembimbing masyarakat didalam mengarungi tata tertib kehidupan didalam negeri ini.
terdapat banyak macam kaedah atau peraturan-peraturan atau juga norma-norma.
yang diantaranya adalah norma agama, norma kesusilaan, norma kesopnan, dan norma hukum.

B. Saran
Sebagaimana pepatah “tiada gading yang tak retak”, kami ibaratkan sebagai kemampuan dan keterbatasan intelek kami. maka, jika terdapat banyak kekeliruan baik dalam segi materinya ataupun dalam segi tulisanya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. jazakumullah ahsanal jaza’.

Hukum Perikatan

Senin, 03 Januari 2011
Posted by Amir Eljani
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah hokum perikatan merupakan terjemahan dari kata verbintenissenrecht (belanda) hokum perikatan adalah keseluruhan peraturan hokum yang mengatur perikatan. Apabila dikaji secara mendalam definisi ini, tampaklah bahwa objek kajian hokum perikatan tidak hanya dikenali dalam buku III KUH Perdata. Tetapi juga perikatan yang dikenal dalam buku kesatu KUH Pedata. Yaitu perikatan dibidang hokum keluarga dan orang.

Untuk mengetahui jenis-jenis perikatan, pengertian somasi, bentuk beserta isinya, pengertian wanprestasi dan akibatnya, sebab timbulnya ganti rugi, pengertian keadaan memaksa da macam-macamnya serta pengertian resiko dalam teori hokum.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Jenis-Jenis Perikatan
Pada dasarnya jenis perikatan dapat dibedakan menjadi dua jenis.
1. Perikatan Perdata (obligation verbintennis)
2. Perikatan Wajas (naturlijk verbintenis)
Perikatan perdata dapat juga disebut dengan obligation verbintenis yaitu suatu perikatan yang dapat dituntut dimuka dan dihadapann pengadilan manakala salah satu pihak atau lebih telah melakukan wanprestasi.
Perikatan wajar atau naturlijk verbintenis adalah suatu perikatan yang timbul karena adanya perjudian.
Perikata perdata dapat dibagi menjadi enam jenis yaitu :
1. Perikatan Bersyarat
2. Perikatan Berdasarkan Ketetapan Waktu
3. Perikatan Alternative
4. Perikatan Tanggung Renteng
5. Perikatan Dapat Dibagi-Bagi Dan Tak Dapat Dibagi-Bagi
6. Perikatan Dengan Ancaman Hukuman

B. Somasi
Somasi adalah teguran dari siberpiutang (kreditor) kepada si berutan (debitor) agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati antara keduanya.
Bentuk somasi yang harus disampaikan kreditr kepada debitr adalah dalam bentuk surat perintah atau sebuah akta yang sejenis.
Surat teuran harus dilakukan paling sedikit tiga kali, dengan mempertimbangkan jarak tempat ditentukan kreditor dengan tempat tinggal debitor. Tenggan waktu yang ideal untuk menyampaikan teguran antara peringatan satu, dua dan tiga adalah tiga puluh hari, sehingga waktu yang diperlukan untuk itu selama tiga bulan atau sembilan puluh hari. Isi atau hal-hal yang harus dimuat dalam surat smasi yaitu :
1. Apa yang dituntut (pembayaran pokok kredit dan bunganya)
2. Dasar tuntutan (perjanjian kredit yang dibuat antara kreditor dan debitr)
3. Tanggal paling lambat untuk memenuhi prestasi (misalnya tanggal 15 Januari 1995)

C. Wanprestasi
Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagai mana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditor dan debitor. Ada empat akibat adanya wanprestasi, sebagaimana yang dikemukakan dalam berikut ini :
1. Perikatan Tetap Ada
2. Debitor harus membayar ganti rugi kepada kreditor (pasal 1243 KUH Perdata)
3. Beban resiko beralih untuk kerugian debitor, jika halangan itu timbul setelah debitor wanprestasi, kecuali jika ada kesengajaan atau kesalahan besar dan pihak editor.
4. Jika perikatan lahir dari perjanjian timbale balik, kreditr dapat membebaskan diri dari kewajibanya memberikan wanprestasi dengan menggunakan pasal 1266 KUH Perdata.

D. Ganti Rugi
Ada dua sebab timbulnya ganti rugi yaitu karena wanprestasi dang anti rugi karena perbuatan melawan hokum.
Ganti rugi karena perbuatan melawan hokum adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada orang yang telah menimbulkan kesalahan pada pihak yang dirugikanya.
Ganti rugi karena wanprestasi adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada debitor yang tidak memenuhi isi perjanjian yang telah dibuat antara kreditor deng debitor

E. Keadaan Memaksa
Yang diartikan dengan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitor tidak dapat melakukan restasinya kepada kreditor. Yang disebabkan adanya kejadina yang berada diluar kekuasaanya seperti karena adanya gempa bumu, banjir, lahar dan lain-lain.
Keadaan memaksa dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Keadaan memaksa abslut
2. Keadaan memaksa relative
keadaan memaksa absolute adalah keadaan dimana debitor sama sekali tidak dapat memenuhi perutanganya kepada kreditor. Oleh karena adanya gempa bumi, banjir banding, dan adanya lahar.
Keadaan memaksa relative adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitoro masih mungki untuk melaksanakan prestasinya. Tetapi pelaksanakan prestasi itu harus dilakasanakan korban yang besar. Yang tidak seimbang atau menggunakan kekuatan jiwa yang diluar kemampuan manusia. Atau kemungkian tertimpa bahaya kerugan yang sangat besar.

F. Resiko
Didalam teori hokum dikenal suatu ajaran yang disebut dengan resicoleer (ajaran tentang resiko). Resicleer adalah suatu ajaran dimana seseorang berkewajibhan untu kmemikul kerugian jikalau ada sesuatu kejadian diuar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda yang menjadi objek perjanjian.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Jenis-jenis perikatan diantaranya :
 Perikatan bersyarat
 Perikatan berdasarkan ketetapan waktu
 Perikatan alternative
 Perikatan tanggung renteng
 Perikatan dapat dibagi-bagi dan tdidak dapat dibagi-bagi
 Erikatan dengan ancaman hukuman
2. Somasi adalah teguran dari sipiutang atau kreditor kepada si beruatng atau debitor agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati antara keduanya
3. Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagai mana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditor dan debitor.
4. Ganti rugi itu ada sebab :
 Karena wanprestasi
 Karena perbuatan melawan hokum
5. keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitor tidak dapat melakukan prestasinya kepada kreditor
6. resiko adalah suatu ajaran dimana seseorang berkewajiban untuk memikul kerugian.

B. Kritik dan Saran
Sebagaimana pepatah “tiada gading yang tak retak”, kami ibaratkan sebagai kemampuan dan keterbatasan intelek kami. maka, jika terdapat banyak kekeliruan baik dalam segi materinya ataupun dalam segi tulisanya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. jazakumullah ahsanal jaza’.


Daftar Pustaka

Salim, 2006, Pengantar Hokum Perdata Tertulis (BW), Jakarta : Sinar Grafika
Welcome to My Blog

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

- Copyright © Makalah Pendidikan Dan Hukum -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -